Get Adobe Flash player
Selama Masih Bernapas Tidak Ada Kata Putus Asa

PENYERAHAN FIDIYAH ALM.BP SUKARYA BIN H.BELI KEPADA PARA PAKIR MISKIN ( JOMPO )

PERJUANGAN ITU DIMULAI DARI KANDANG SAPI…

(Profil Yayasan Bakti Islami Takwinul Ummah Karawang, pesantren yang membina anak-anak yatim, dhuafa,dan tunanetra)

Miskin dan bodoh, tidak syak lagi merupakan dua hal yang paling tidak diinginkan manusia. Namun, ternyata ada sebagian orang yang “nyaman” dalam kemiskinan dan kebodohan, dan justru takut untuk keluar dari zona nyaman tersebut.

Itulah yang disaksikan oleh R. Ismail Prawira Kusuma (33 tahun), ketika ia pulang kampung pada bulan Mei 2008 lalu. Ia adalah seorang tunanetra, tapi ditaqdirkan Allah dapat mengenyam pendidikan sampai tingkat pascasarjana. Ia juga pernah menjadi wartawan selama tiga tahun, dan bermimpi untuk berbuat sesuatu – meskipun kecil dan remeh – yang bermanfaat untuk kampungnya.

Desa Kalangsari, tempat Ismail dilahirkan, sebenarnya tidak termasuk daerah terpencil. Tempat ini hanya berjarak 20 km dari pusat kota Karawang, atau sekitar 90 km dari Jakarta. Namun, pola hidup masyarakatnya yang masih kurang peduli terhadap pendidikan membuat daerah ini seolah begitu terasing dari peradaban. Sampai tahun 2008 lalu, anak-anak yang tamat dari pendidikan dasar (SD-SMP) dan melanjutkan ke pendidikan menengah (SMA/SMK) kurang dari 30%. Dari mereka yang melanjutkan pun banyak yang akhirnya gagal di tengah jalan. Mereka biasanya tergiur untuk segera bekerja. Dengan usia yang masih jauh dari matang, mendapatkan uang lima atau sepuluh ribu sehari seolah sudah hidup bak milyuner. Sebagian masuk ke pabrik-pabrik yang entah bagaimana bisa mendapatkan ijin untuk beraktifitas di tengah lingkungan desa. Sebagian lagi bekerja serabutan, seperti kenek truk, pemulung barang rongsokan, bahkan penggali kubur.

Tentu saja untuk sementara mereka dapat bersenang-senang dengan kebebasan mereka dari aktifitas belajar. Akan tetapi, beberapa tahun kemudian mereka pun menyesal karena hidup mereka tidak berkembang, banyak kesulitan menghadang, hingga tak jua lepas dari deraan kemiskinan.

Kondisi paling parah dialami anak-anak yatim yang jumlahnya ratusan (pada tahun 2008, ketika kami mendata anak-anak yatim di desa ini jumlahnya mencapai 250 anak lebih ). Banyak diantara mereka yang sekedar menamatkan SD pun tidak berhasil. Alasannya sangat klasik, yakni masalah biaya. Meskipun sekolah sudah digratiskan sampai tingkat SMP, tapi biaya tetek bengek (mulai dari buku pelajaran, seragam sekolah, uang kegiatan, dan biaya-biaya siluman yang lain) ternyata tetap menyusahkan mereka. Celakanya, pihak sekolah tidak pernah memandang kondisi anak-anak yatim yang miskin itu sebagai hal yang layak memperoleh keringanan.

Jangankan untuk membayar itu semua, untuk makan sehari-hari pun mereka sering kesulitan. Misalnya, ada sebuah keluarga dengan 5 anak yatim yang diasuh oleh neneknya yang begitu miskin. Saking miskinnya, mereka biasa makan dengan satu mie instan untuk berlima, dengan diperbanyak airnya supaya cukup. Ada juga anak yang hanya bisa makan dengan bubuk kaldu diseduh dengan air hangat.

Nah, menyaksikan kenyataan itu, maka Ismail berusaha mengumpulkan beberapa teman di kampungnya dan mengajak mereka untuk berbuat sesuatu demi memperbaiki kondisi masyarakat. Maka, mereka pun bersepakat mendirikan sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang sosial, pendidikan, dan keagamaan, yang brenama YAYASAN BAKTI ISLAMI TAKWINUL UMMAH. Disepakati pula bahwa langkah awal dari proyek besar memperbaiki masyarakat itu dengan terlebih dahulu menyelamatkan anak-anak yatim dan miskin dengan memfasilitasi mereka untuk dapat mengakses pendidikan yang berkualitas dan murah.

Maka, dari sebuah bangunan bekas pabrik, yang sempat juga dimanfaatkan sebagai kandang sapi, dimulailah proses pendidikan itu. Sebuah pola pendidikan sistem pesantren, dengan fokus utama pada pembangunan karakter (akhlaqul karimah), plus materi-materi tambahan seperti Bahasa Inggris dan komputer, telah merangsang antusiasme anak-anak yang lapar dengan suasana baru.

Pembangunan Gedung dan Sarana Fisik

Periode Nopember 2009, dengan modal keyakinan pada janji Allah Ta’ala, YBI Takwinul Ummah memulai pembangunan madrasah. Berukuran 16 x 6,5 m2, bangunan itu dibagi menjadi beberapa ruangan; kantor yayasan,  kelas, dan perpustakaan. Namun, awal 2010, bangunan bekas pabrik yang selama ini menjadi tempat belajar anak-anak binaan YBI Takwinul Ummah itu sudah tidak boleh lagi dipakai. Bangunan itu akan segera dikontrakan oleh pemiliknya, dan anak-anak pun terusir dengan sendirinya. Hal ini sempat membuat YBI Takwinul Ummah kelimpungan. Sebab, gedung madrasah yang sedang dibangun belum juga selesai, malah sempat terhenti karena karena kehabisan dana. Untunglah, tiga bulan kemudian, gedung madrasah itu pun bisa digunakan.

Dan sejak saat itu, pembangunan pesantren pun terus berlanjut. Dengan izin Allah Ta’ala, melalui uluran para donatur, sampai saat ini (2014) YBI Takwinul Ummah telah memiliki satu lokal asrama santri yang terdiri dari 2 lantai, ruang belajar, ruang pertemuan, dan dapur umum. Semua bangunan itu berada di atas tanah waqaf dengan luas sekitar 1. 000 m2 (masih ada ruang kosong seluas 350 m2 yang akan dibangun untuk asrama putri dan taman pesantren).

Jumlah Santri dan Program Pendidikan

Saat ini, jumlah santri YBI Takwinul ummah berjumlah sekitar 150 anak, mulai dari tingkat TK, SD, SMA, dan umum. Adapun santri yang mukim di asrama, jumlahnya baru 15 anak, terdiri dari anak-anak yatim, dhuafa, dan tunanetra. Program utama mereka adalah TAHFIZHUL QUR’AN (menghafal Al Qur’an) dan Dirasat Islamiyah. Alhamdulillah, sampai akhir tahun 2013, para santri ini telah ada yang menghafal Al Qur’an mulai dari 1 sampai 8 juz. Mereka pun sering diikutkan dalam berbagai lomba tahfizhul Qur’an dengan prestasi yang cukup membanggakan.

Di samping santri yatim dan miskin, YBI Takwinul Ummah juga mengasuh beberapa anak tunanetra. Mereka menghafal Al Qur’an dengan bantuan mushaf Al Qur’an Braille. Mereka juga tengah dipersiapkan untuk dapat menguasai talking computer (komputer bicara) yang akan mendukung proses belajar mereka. Namun, karena keterbatasan dana dan fasilitas, program ini belum bisa dilaksanakan saat ini.

Sedangkan untuk anak-anak yang tidak berasrama, terbagi ke dalam beberapa tingkatan, yakni tingkat Raudhatul Athfal (TK Islam), Diniyah Takmiliyah Awwaliyah (DTA) atau sekolah agama untuk tingkat SD, Diniyah Takmiliyah Wustho (DTW) untuk tingkat SMP dan SMA.

 

Selain itu, sejak awal 2012, YBI Takwinul Ummah juga telah mengembangkan jaringan pendidikan Islam ke seluruh kabupaten Karawang. JARIPITU (Jaringan Penggerak Pendidikan Islam Takwinul Ummah), begitu nama jaringan tersebut. Saat ini, jumlah lembaga yang tergabung dengan JARIPITU ini mencapai 16 lembaga, dengan sekitar 1. 200 santri yang dibina.

Beasiswa anak yatim

Untuk tahun 2014 ini, YBI Takwinul Ummah telah memiliki binaan anak yatim sebanyak 165 anak, yang setiap bulan rutin diberikan beasiswa. Dana beasiswa ini berasal dari program Orang Tua Asuh (OTA) yang telah dijalankan sejak tahun 2009. Namun,, dari 165 anak yatim tersebut, baru sekitar 40 anak yang benar-benar memiliki orang tua asuh, sehingga YBI Takwinul Ummah melakukan pola subsidi silang agar semua anak dapat memperoleh beaisiswa rutin.

Mereka telah Berubah…

Perjalanan selama kurang lebih lima tahun mengasuh anak-anak yatim dan tunanetra ini telah memberikan sebuah tontonan gratis bagi mata jiwa Ismail tentang bagaimana taqdir Allah berjalan atas para hamba-Nya.

Dulu, anak-anak itu tampak kurus kering karena kekurangan nutrisi, kini mereka telah montok dan berisi…

Dulu, mata mereka cekung karena putus asa, sekarang mata itu tampak berbinar penuh semangat…

Dulu, ketika mereka pertama kali dikumpulkan, dan ditanyakan, apakah cita-cita mereka? banyak dari mereka yang tak mampu menjawab pertanyaan sederhana itu. Mereka seolah tidak merasa berhak punya cita-cita, atau bahkan takut untuk sekedar memiliki cita-cita. Namun, saat ini, ketika siapapun menanyakan hal yang sama, maka jawaban mereka tak lagi sama. Mereka tak lagi diam dan putus asa. Mereka akan berteriak lantang menyebutkan cita-citanya masing-masing; ada yang ingin jadi guru, dokter, polisi, bahkan ada yang ingin jadi Presiden….

(informasi lebih lanjut tentang Pondok Pesantren yatim, dhuafa, dan tunanetra YBI Takwinul Ummah Karawang dapat ditanyakan langsung kepada Ust. R. Ismail Prawira Kusuma M. E. I., (0813 80854068). Untuk bantuan infaq dapat disalurkan melalui rekening

  • Bank Mandiri Tuparev Karawang no. Rek 13200 1029 5641 an. YAYASAN BAKTI ISLAMI TAKWINUL UMMAH.

  • BCA Karawang no. rek.5745057222 an. YAY BAKTI ISLAMI TAKWINULUMMAH.)

Maulid Nabi Muhammad SAW – Ponpes Ibnu ‘Athaillah – Taman Tahfidz

Marawis Ibnu 'athaillah( Marawis Ibnu ‘Athaillah )

( Marawis Ibnu ‘Athaillah )

( Santri Tahfidz )

( Santri Tahfidz )

( Pembacaan Burdah )

” Ust.Ismail “

( Pimpinan Lembaga Ponpes Ibnu ‘Athaillah)

( Ekskul Tapak Suci )

( Duel Master Tapak Suci )

( Duel Master Tapak Suci )

( Ust. H. Eka dan Ust. Ismail )

( Santri Yatim )

( Simbolis Santunan Yatim )

( Simbolis Santunan Yatim )

Aqiahnadia fatimah azzahra bin catur budi kurniawan ( Yayasan Bhakti Islami Takwinul Ummah )

Akikiah 20 Desember 2013 TAKWINUL UMMAH “IMAM NAUFAL Bin Marta Hendra Wijaya”

( Proses Penyembelihan )

( Proses Masak )

( Game In Door )

( Kajian Oleh Ust.Ismail Prawira Kusuma S.Sos M.E.i )

( Makan Bersama )

( Makan Bersama )

( Makan Bersama )

( Makan Bersama )

( Makan Bersama )

( Makan Bersama )

( Makan Bersama )

( Makan Bersama )

( Makan Bersama )

( Makan Bersama )

Kegiatan Belajar Siswa

Guru-Guru RA

Waktu

Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

Baca Al-Qur’an Online